
Tips Pola Makan Sehat :
* Pilihlah variasi makanan dari tiap kelompok makanan yang berbeda, untuk menjamin keseimbangan nutrisi.
* Konsultasikan penggunaan suplemen kehamilan pada dokter bilamana Ibu merasa kurang mengkonsumsi makanan dari kelompok tertentu.
* Makan teratur 3 kali sehari, dan konsumsi makanan ringan sebagai selingan 2 sampai 3 kali sehari.
* Dapatkan serat dari buah, sayur, gandum, sereal, dan kacang-kacangan.
* Minumlah air sedikitnya 8 gelas sehari. Di tambah susu rendah lemak , jus buah segar dan sup.
* Makan satu porsi ikan kaya minyak dan satu porsi ikan daging putih setiap minggu.
* Gunakan minyak sayur, seperti minyak jagung, zaitun, dan bunga matahari dalam masakan Ibu. Tapi gunakan sedikit saja.
* Hindari makanan olahan berpengawet. Biasanya mereka mengandung garam dengan kadar tinggi.
* Hindari kafein.
* Hindari permen, keripik, kue, biskuit, lemak, minyak, dan gula. Walau berkalori, mereka tidak banyak nilai nutrisinya. Mengganti camilan dengan buah-buahan, pasti lebih sehat.

Demam berdarah kembali melanda Indonesia dan telah memakan jumlah korban tidak sedikit. DBD adalah penyakit akut yang disebabkan infeksi virus yang dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus betina (lihat: "Siapa Aedes aegypti Itu?") yang umumnya menyerang pada musim panas dan musim hujan. Virus itu menyebabkan gangguan pada pembuluh darah kapiler dan pada sistem pembekuan darah, sehingga mengakibatkan perdarahan. Manifestasi klinis dari infeksi virus dengue dapat berupa demam dengue dan DBD dengue.
Secara kronologis prosesnya dimulai dari nyamuk aedes yang tidak bervirus menggigit dan mengisap darah seseorang yang telah terkena demam berdarah dengue. Nyamuk yang sudah terinfeksi virus kemudian menggigit orang sehat dan memindahkan virusnya bersama air ludah ke dalam tubuh.
Pada saat tersebut, virus memperbanyak diri dan menginfeksi sel-sel darah putih serta kelenjar getah bening untuk kemudian masuk ke sistem sirkulasi darah. Virus ini sebenarnya hanya ada di dalam darah selama tiga hari sejak ditularkan oleh nyamuk. Pada hari-hari itulah terjadi pertempuran antara antibodi dan virus dengue yang dianggap sebagai benda asing oleh tubuh. Badan biasanya mengalami gejala demam dengan suhu tinggi antara 39° C sampai 40° C.
Akibat pertempuran tersebut terjadi penurunan kadar trombosit dan bocornya pembuluh darah sehingga membuat plasma darah mengalir ke luar. Penurunan trombosit ini mulai bisa dideteksi pada hari ketiga. Masa kritis penderita demam berdarah berlangsung sesudahnya, yakni pada hari keempat dan kelima.
Pada fase ini, suhu badan turun dan biasanya diikuti oleh sindrom shock dengue karena perubahan yang tiba-tiba. Muka penderita pun menjadi memerah atau facial flush. Biasanya, penderita juga mengalami sakit pada kepala, tubuh bagian belakang, otot, tulang dan perut (antara pusar dan ulu hati). Tidak jarang diikuti dengan muntah yang berlanjut dan suhu dingin dan lembab pada ujung jari serta kaki.
Penanganan yang benar pada fase tersebut sangat ditekankan agar penderita bisa melewati masa kritisnya dengan baik. Caranya dengan banyak memberikan asupan cairan kepada penderita sebagai pengganti plasma darah. Hal ini dikarenakan banyaknya cairan tubuh yang hilang dengan cepat akibat merembesnya plasma darah yang keluar dari pembuluh darah. Saat ini, larutan gula garam atau oralit masih merupakan cairan terbaik karena komposisinya setara dengan plasma darah.
Pemberian infus diberikan apabila penderita dalam kondisi muntah terus, tidak bisa makan dan minum, menderita kejang, kesadaran menurun atau derajat kebocoran plasma darahnya tinggi, yang biasa terjadi pada fase kritis. Begitu pula dengan transfusi trambosit yang akan diberikan jika trambosit penderita di bawah 100.000 dengan pendarahan yang cukup banyak. Bila masa kritis itu bisa dilewati dengan baik maka pada hari keenam dan ketujuh kondisi penderita akan berangsur membaik dan kembali normal pada hari ketujuh atau kedelapan.
Tapi, reaksi tubuh manusia terhadap virus ini dapat berbeda. Perbedaan reaksi ini juga akan memanifestasikan perbedaan penampilan gejala klinis dan perjalanan penyakit. Bentuk reaksi tubuh manusia terhadap keberadaan virus dengue itu adalah
terjadi netralisasi virus, disusul dengan mengendapnya bentuk netralisasi virus pada pembuluh darah kecil di kulit berupa gejala ruam, terjadi gangguan fungsi pembekuan darah sebagai akibat dari penurunan jumlah dan kualitas komponen-komponen beku darah yang menimbulkan manifestasi perdarahan, terjadi kebocoran pada pembuluh darah yang mengakibatkan keluarnya komponen plasma (cairan) darah dari dalam pembuluh darah menuju ke rongga perut berupa gejala ascites dan rongga selaput paru berupa gejala efusi pleura. Jika tubuh manusia hanya memberi reaksi pertama dan kedua, orang itu akan menderita demam dengue. Sementara, jika ketiga reaksi terjadi, orang itu akan mengalami DBD dengue.
Jika demam dengue terjadi, gejala-gejala yang timbul adalah
demam, yang timbul secara mendadak, tinggi (dapat mencapai 39°C-40°C) dan dapat disertai dengan menggigil. Demam ini hanya berlangsung 5-7 hari. Saat demam berakhir, sering kali dalam bentuk turun mendadak, disertai dengan keringat banyak dan tubuh tampak loyo. Kadang-kadang, dikenal istilah demam biphasik, yaitu demam yang berlangsung selama beberapa hari, sempat turun ditengahnya menjadi normal, lalu naik lagi dan baru turun lagi saat penderita sembuh.
Timbulnya gejala panas, akan segera disusul dengan timbulnya keluhan nyeri pada seluruh tubuh. Pada umumnya, yang dikeluhkan adalah nyeri otot, sendi, punggung dan bola mata yang semakin meningkat apabila digerakkan. Adanya gejala nyeri ini, masyarakat awam sering menyebutnya flu tulang. Setelah penderita sembuh, gejala-gejala nyeri pada seluruh tubuh juga akan hilang.
Ruam, yang dapat timbul pada saat awal panas (berupa flushing: kemerahan pada daerah muka, leher dan dada). Ruam juga dapat timbul pada hari ke-4 sakit, berupa bercak-bercak merah kecil seperti bercak pada penyakit campak. Kadang-kadang ruam yang seperti campak ini hanya timbul pada daerah tangan atau kaki saja sehingga memberi bentuk spesifik seperti kaos tangan atau kaki.
Pada infeksi virus dengue apalagi pada bentuk klinis DBD dengue selalu disertai dengan tanda perdarahan. Hanya saja tanda perdarahan ini tidak selalu didapat secara spontan oleh penderita. Bahkan pada sebagian besar penderita, tanda perdarahan ini muncul baru setelah dilakukan test tourniquet. Bentuk-bentuk perdarahan spontan yang dapat terjadi pada penderita demam dengue dapat berupa perdarahan kecil-kecil di kulit (petechiae), agak besar di kulit (echimosis), gusi, hidung dan kadang-kadang dapat terjadi perdarahan masif yang dapat berakhir dengan kematian.
Pada anak-anak tertentu, jika menderita panas juga disertai dengan perdarahan hidung (epistaksis). Hal itu dikenal sebagai habitual epistaksis, sebagai akibat kelainan sementara dari komponen beku darah yang disebabkan oleh segala bentuk infeksi (tidak hanya oleh virus dengue). Ada juga pada penderita lainnya, jika minum obat disaat panas, akan disusul dengan terjadinya perdarahan hidung.
Pada DBD dengue, secara umum, empat gejala seperti yang terjadi pada demam dengue juga akan terjadi. Bedanya adalah adanya manifestasi gejala klinis sebagai akibat adanya reaksi ketiga tubuh manusia terhadap virus dengue, yaitu keluarnya plasma darah dari dalam pembuluh darah keluar dan masuk ke dalam rongga perut dan rongga selaput paru. Jika ini tidak segera ditanggulangi, manifestasi gejala perdarahan menjadi sangat masif. Praktiknya, sering kali dokter terpaksa memberikan tranfusi darah dalam jumlah yang tidak terbayangkan. Yang perlu dicermati adalah kapan penderita DBD dengue mulai mengalami keluarnya plasma darah dari dalam pembuluh darah. Biasanya, keluarnya plasma darah terjadi pada sakit hari ke-3 sampai ke-6. Gejalanya didahului dengan penurunan panas badan penderita secara mendadak (lysis), diikuti dengan tubuh yang tampak loyo, pada perabaan akan didapatkan ujung-ujung tangan atau kaki dingin dan nadi yang kecil dan cepat. Saat itulah sebenarnya kondisi kritis yang harus dicermati. Karena semakin lemah dan loyo-nya penderita, akan terlambat atau kurang optimal untuk diselamatkan.
Dengan jumlah penduduk besar, seharusnya masyarakat Indonesia bisa jadi kekuatan, tolong menolong dan bergotong royong membersihkan lingkungan. Bayangkan, hanya dengan langkah sederhana, yaitu pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang dilakukan dengan kegiatan 3M, rantai penularan aedes aegypti sebagai penyebab DBD dapat diputus, sehingga tidak sampai menyebar luas. Tapi yang terjadi justru kita membuat serangan penyakit itu semakin membabi-buta, tanpa pertahanan dan perlawanan berarti.
Biasanya DBD akan menyerang orang-orang yang tinggal di daerah pinggiran, kumuh dan lembab serta anak-anak berusia di bawah 15 tahun. Untuk mencegah serangan, tentunya adalah dengan membasmi nyamuk aedes yang menjadi media virus, dengan tidak menyediakan tempat perkembangbiakannya di tempat lembab dan berair. Untuk memberantas nyamuk itu, jentik-jentiknya atau sarang-sarangnya harus diberantas. Karena tempat berkembang-biaknya ada di rumah-rumah dan tempat-tempat umum, setiap keluarga harus melaksanakan PSN-DBD, secara teratur sekurang-kurangnya seminggu sekali. Selain itu, fogging dan memutuskan mata rantai pembiakan Aedes aegypti lewat abatisasi juga harus dilakukan.
Bila seseorang terserang DBD, pertolongan pertama yang bisa dilakukan adalah memberi minum sebanyak-banyaknya dengan air yang sudah dimasak, seperti air susu, teh, air bening, oralit atau air minum lainnya. Sementara itu, si penderita dapat dikompres dengan air dingin atau es dan diberi obat penurun panas seperti parasetamol. Selanjutnya, si penderita harus segera dibawa ke dokter. Sebenarnya, belum ada vaksin yang dapat menyembuhkan DBD secara langsung. Pengobatan tradisional dapat dilakukan untuk mengurangi gejala yang ditimbulkan, mengatasi perdarahan, mencegah atau mengatasi keadaan shock atau preshock dengan mengusahakan penderita agar banyak minum, bila perlu diberi cairan lewat infus.
Diagnosis HIV pada ibu dan bayi untuk mencegah kematian akibat vaksin TB

Bacille Calmette-Guérin atau BCG adalah salah satu vaksin yang diberikan secara luas di dunia dan aman bagi orang dengan sistem kekebalan yang sehat. Baru-baru ini WHO menerbitkan temuan penelitian lanjutan mengenai vaksin tuberkulosis (TB) yang baku adalah lebih berisiko terhadap kematian bayi dengan HIV.
Karena risiko yang berat, WHO menyarankan agar tidak memvaksinasi bayi yang terinfeksi HIV dan menunda vaksinasi pada bayi yang status infeksi HIV-nya tidak diketahui tetapi memiliki tanda atau gejala yang sesuai dengan infeksi HIV.
Anjuran itu diterbitkan pada 2007 dan menjadi tantangan bagi sistem kesehatan yang lemah di seluruh dunia.
Anjuran itu menekankan kebutuhan tes HIV secara lebih luas pada bayi dan ibu hamil. Gejala klinis infeksi HIV biasanya muncul setelah bayi berusia tiga bulan tetapi di beberapa negara bayi divaksinasi BCG secara rutin setelah kelahiran.
UNAIDS menghimbau peningkatan akses pada dan penggunaan layanan yang bermutu untuk pencegahan penularan dari ibu-ke-bayi (prevention of mother-to-child transmission/PMTCT) serta juga pemberian layanan HIV dan TB secara terpadu
“Kebijakan vaksinasi BCG secara selektif pada bayi yang terpajan HIV membutuhkan peningkatan tes HIV pada ibu hamil, memperkuat layanan PMTCT, dan perpaduan program TB dan HIV secara lebih baik,” kata Dr. Catherine Hankins, Chief Scientific Adviser UNAIDS.
Hasil penelitian selama tiga tahun di Afrika Selatan diterbitkan dalam jurnal Bulletin WHO edisi Juli 2009. Hasil itu mengonfirmasi penelitian yang dipimpin oleh WHO pada 2007 untuk mengubah kebijakan vaksinasi BCG pada bayi. Kemudian, Global Advisory Committee on Vaccine Safety WHO dan Strategic Advisory Group yang terdiri dari pakar TB dan HIV menerbitkan pedoman yang telah direvisi mengenai vaksinasi BCG pada bayi yang berisiko terinfeksi HIV.
“Laporan itu memberi informasi yang lebih baik tentang risiko infeksi BCG secara umum pada bayi terinfeksi HIV dan mengingatkan kembali tentang kebutuhan untuk menemukan cara baru untuk mencegah TB pada bayi (yang paling berisiko meninggal akibat TB) dan untuk mendiagnosis HIV pada bayi,” kata Dr. Alasdair Reid, penasihat TB UNAIDS.
Empat skenario diuraikan oleh WHO, yang mempengaruhi keseimbangan antara risiko dan manfaat vaksinasi BCG di rangkaian beban tinggi TB dan infeksi HIV.
1. Bayi yang lahir dari ibu dengan status infeksi HIV yang tidak diketahui: Manfaat vaksinasi BCG lebih besar daripada risiko dan bayi harus divaksinasi.
2. Bayi yang status infeksi HIV-nya tidak diketahui dan tidak menunjukkan tanda atau gejala infeksi HIV, tetapi lahir dari ibu terinfeksi HIV: Manfaat vaksinasi BCG biasanya lebih besar daripada risiko, dan bayi harus menerima vaksinasi BCG setelah mempertimbangkan beberapa faktor lokal.
3. Bayi yang diketahui terinfeksi HIV, dengan atau tanpa tanda atau gejala infeksi HIV: Risiko vaksinasi BCG lebih besar daripada manfaat dan bayi tidak boleh menerima vaksin, tetapi harus menerima vaksin rutin lain.
4. Bayi yang status infeksi HIV-nya tidak diketahui tetapi memiliki tanda atau gejala infeksi HIV dan lahir dari ibu terinfeksi HIV: Risiko vaksinasi BCG biasanya melampaui manfaat, dan bayi tidak boleh menerima vaksin pada beberapa minggu pertama kehidupannya, karena gejala klinis infeksi HIV biasanya muncul setelah bayi berusia tiga bulan. Namun, vaksin dapat diberikan apabila infeksi HIV dinyatakan tidak ada berdasarkan tes virologi secara dini.
(Sumber: spiritia.or.id)

Kita baru saja memasuki bulan Ramadhan. Bulan di mana setiap umat muslim merayakannya dan melakukan aktifitas berpuasa. Dalam Islam yang diwajibkan berpuasa adalah mereka yang sudah dewasa (akil balig), namun begitu, Bunda juga bisa memanfaatkan bulan ini untuk memperkenalkan arti puasa pada si kecil.
Sebagai orangtua harus memiliki ‘bekal’ supaya dapat menerangkan kepada si kecil tentang puasa. “Jangan sampai orangtua sendiri minim informasi sehingga anak tidak puas dengan apa arti puasa yang bunda sarankan/ perkenalkan
Tentu saja bahasa disesuaikan dengan usia anak. untuk itu orangtua perlu memilah mana kalimat yang tepat untuk buah hatinya.
Misalnya jika Bunda manda menjelaskan kpd amanda berpuasa adalah kewajiban, menahan hawa napsu, bersabar dan lain sebagainya mereka cenderung amanda bingung dan akan terus bertanya. Bahkan bisa jadi Bunda manda sendiri yang kewalahan menjawabnya.
Caranya mudah, Bunda bisa menerangkan pada pergeseran jam makan. Jelaskan orang berpuasa itu tidak makan dari mulai Subuh sampai waktu Maghrib tiba.
Kalau si kecil (3 tahun) tertarik dan mau ikut berpuasa biarkan saja, tetapi ingat usia ini hanya untuk memperkenalkan saja, belum fokus pada kewajiban. Katakan jam 9 pagi (snack time) mereka sudah boleh berbuka. Untuk menambambah semangat Bunda boleh memberikan bonus sesuatu bila mereka berhasil.
Selain berpuasa Bunda juga bisa memanfaatkan bulan ini dengan memperkenalkan aktifitas lain di bulan Ramadhan seperti sahur dan berbuka puasa bersama, shalat tarawih, mengaji bersama, dll.
Tips :
* tetap utamakan kebutuhan gizi untuk si kecil. Jangan sampai karena belajar berpuasa kebutuhan gizinya terabaikan
* untuk menambah semangat bisa ajak si kecil mendekor rumah dengan suasana Ramadhan. Misalnya pesan-pesan yang ditulis di atas kertas berwarna “Ayo Berpuasa!” dan lain sebagainya.
* Jangan membandingkan kemampuan berpuasa anak satu dengan lainnya

Actually, the baby teeth have started since he was still a fetus. However, because growth is still in the jaw, then the process is invisible to our eyes. Hence a more appropriate term to call out the baby tooth is not growing, but "appeared".
The first teeth to appear usually when 5-7 months old baby. Well, if your baby this age and you often see him put his fist (or other object) into the mouth, it's likely soon will first tooth appears.
What signs of emergence of your baby teeth?
Other signs of teething is acting fussy, crying, and always happy, biting anything that could be held.
In addition, your baby will be a lot to salivate (this is useful to cool a bit swollen gums due to teething process), he will feel a little pain in his gums, his appetite will decrease and maybe he will experience a mild fever
Is Process Causes Tooth emergence Infants Experiencing High Fever, Colds and Diarrhea?
Many parents that connects the baby teething process with few actual disease is not medically related.
You need to know, that process will not teething to cause high fever, runny nose, or diarrhea in your baby. If your child is very fussy, high fever and even diarrhea, you should check with your pediatrician, because this all has nothing to do with the teething process.
What Can You Give To him?
To ease the process of teething in infants, you can give it a hard and cold nature, including:
1. Ring loud toys specifically for the emerging baby teeth
2. Cloth towels that have been soaked in cold water
3. Frosted donuts (after he began to melt and destroyed, taken from your baby)
It is better if you always provide a plastic toy ring to bite him. You can insert this plastic ring in the refrigerator first, but do not be stored in the freezer. This ring toy store in the freezer can even damage the baby's gums.
First Teeth Appear?
The first teeth to appear are usually the 2 lower incisors. Then followed by 4 upper incisors.

Pemberian susu formula pada bayi yang baru lahir beresiko tinggi bagi kesehatannya, begitu pula pencampuran dengan tingkat pengenceran yang salah dan kebersihan air pencampur yang buruk menyebabkan bayi mudah terserang penyakit.
"Di Afrika, 30% bayi meninggal sebelum umur satu tahun karena pemberian susu dengan air tidak bersih dan pengenceran yang salah," kata Konsultan Neonatology RSCM, Prof Rulina Suradi, SpA(K)IBCLC, di Jakarta, Senin (02/08).
Menurut dia, pemberian susu dengan cara tersebut menyebabkan kuman masuk dan tumbuh dalam susu yang dikonsumsi oleh bayi yang kondisi tubuhnya masih sangat rentan, sehingga sangat mudah terserang penyakit.
"Mengapa harus menyalahi kodrat, susah-susah bangun malam dan membuat susu dengan resiko tinggi kalau bisa memberikan air susu ibu (ASI) yang jauh lebih steril dan menyehatkan," katanya.
Dia mengatakan bahwa kelenjar susu ibu adalah "pabrik susu" paling efisien di dunia.
"Kelenjar susu ibu bisa mengolah dan mengubah apa saja yang dimakan oleh ibu menjadi air susu yang berkualitas bagus, tidak ada perbedaan yang signifikan antara kualitas air susu ibu yang hanya mengonsumsi tempe dan sayur dengan ibu yang mengonsumsi keju dan makanan mewah lainnya," katanya.
Tetapi tentu saja kecukupan gizi ibu tetap tidak bisa diabaikan, ibu tetap harus untuk mengonsumsi makanan yang bergizi untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dan kebutuhan anaknya.
Bayi berumur nol sampai enam bulan mutlak memerlukan ASI karena ASI memenuhi 100% kebutuhan bayi akan zat gizi.
Setelah berumur enam bulan bayi memerlukan lebih banyak zat gizi, dan ASI hanya bisa menopang 60%-70% kebutuhan gizi pada bayi sehingga bayi memerlukan makanan pendamping lain.
Pemberian ASI menurut Rulina lebih aman bila dihentikan saat anak berumur dua tahun.
Pekan ASI sedunia Menyambut Pekan ASI sedunia atau World Breast-Feeding Week (1-7 Agustus) beberapa organisasi yang peduli tentang penggunaan ASI eksklusif pada bayi, salah satunya Perkumpulan Perinatologis Indonesia (Perinasia) melakukan kegiatan untuk memasyarakatkan pemberian ASI eksklusif pada bayi.
Kegiatan itu, menurut Rulina, di antaranya berupa lomba pemberian ASI eksklusif dan lomba pembuatan poster untuk mengampanyekan pemberian ASI eksklusif pada bayi.
Hal itu dilakukan karena menurut dia ASI sangat penting dan perannya tidak bisa digantikan oleh jenis susu lain.
Menurut dia, ASI mengandung lebih dari 1000 jenis nutrien sehingga tidak ada satu pun jenis susu lain yang bisa menyamainya, selain itu tidak semua zat gizi yang terdapat dalam susu yang lain bisa diserap oleh bayi seperti ASI.
"ASI didesain khusus untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi seperti susu sapi didesain khusus untuk anak sapi, masing-masing mempunyai komposisi yang berbeda sehingga tidak bisa saling menggantikan
artikel ini diambil dari kapanlagi.com
Mengapa Perlu Memeras ASI ?
ASI perasan sangat bermanfaat bagi semua bayi sehat, terlebih pada saat Ibu menghadapi keadaan sebagai berikut :
- Berat bayi lahir rendah.
- Bayi baru lahir kurang sehat.
- Ibu bekerja, dan lakukan sebagai berikut :
 Peraslah sebanyak mungkin sebelum Ibu berangkat dan tinggalkan untuk bayi dirumah.
Keunggulan ASI
- Komposisinya paling sesuai untuk kebutuhan bayi. Mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral &
 hormonal yang dibutuhkan bayi.
- Meningkatkan daya tahan tubuh bayi terhadap penyakit.
- Memperlebar jarak kehamilan.
- Mudah digunakan.
- Mempererat kasih sayang antara ibu dan bayi.
Hanya ASI MAKANAN BAYI TERBAIK Hingga minimal 6 bulan
Apa Keuntungan Menetekkan ?
- Mengurangi pendarahan setelah melahirkan.
- Mengembalikan tubuh ibu pada keadaan sebelum lahir.
- Dengan ASI bisa lebih hemat.
- ASI mudah diberikan kapan dan di mana saja.
- Ibu dapat menjalin hubungan batin yang lebih akrab dengan bayi.
- Ibu dapat lebih mudah mengenali sifat dan kemauan bayinya.
Mengapa Bayi Perlu ASI ?
- ASI mengandung semua zat gizi yang diperlukan bayi.
- Melalui penetekan menumbuhkan jalinan rasa kasih sayang yang penting untuk perkembangan dan kecerdasan  anak.
- Air susu yang keluar pada hari-hari pertama (susu jolong atau kolostrum) mengandung zat kekebalan tubuh.
- ASI bersih dan mudah diberikan.
Peranan Kolostrum bagi Bayi
- Kolostrum adalah ASI yang keluar pada hari-hari pertama (disebut juga susu jolong) dan berwarna kekuning-  kuningan.
- Kolostrum adalah makanan khusus untuk bayi yang dibutuhkan oleh bayi sebelum ASI keluar.
- Kolostrum terlihat agar berbeda, tetapi sangat penting diminum oleh bayi. Ia mengandung zat kekebalan tubuh yang  dapat melindungi bayi dari penyakit.
- Merupakan makanan pertama yang harus diberikan kepada bayi.
- Berikan Kolostrum saja sampai ASI keluar.
info dari ikatan bidan indonesia
Read More......

Menjadi seorang ibu memang sesuatu yang cukup membanggakan, setidaknya buatku. Anak adalah sebuah kepercayaan dari Allah bagi seorang hambanya untuk melangkah ke tahap yang lebih baik. Tahapan yang penuh dengan lika-liku kehidupan, angin membelai lembut anakku dengan mesra. Semoga saja ia selalu ingat kepada embun pagi bersahaja yang menemaninya sebelum cahaya
Amanda Nasywa Putri nama lengkapnya. Lantas apa dibalik namanya itu? Yanglahir pada tgl 28 oktober 2008 bertepatan dgn hari sumpah pemuda. Entah masa depan apa yang ingin ia tempuh dan bagaimana ia mengambil jalan hidupnya, yang penting ia bisa bermanfaat bagi semuanya. Terutama bagi nusa,bangsa dan agama amin…!
Mudah-mudahan saja aku dan suamiku dapat teguh untuk menjaganya dan memberi pendidikan yang terbaik baginya. Ad satu kalimat bahwa anak itu mutlak tanggung jawab orang tua. Kita tidak dapat berargumen dan menyalahkan lingkungan, media, atau apapun terhadap perilaku anak nanti. Karena, orang tualah yang mengambil peran untuk memperkenalkan anak dengan lingkungan yang baik, dengan media ataupun tayangan-tayangan yang cerdas, termasuk semua impuls yang diterima anak.
Masa kecil anak adalah penentuan bagaimana ia dewasa nanti. Maka, saat itulah para orang tua secara intensif memberikan impuls-impuls positif terhadap anak. Tidak perlu dengan susu formula yang harganya mahal dan masih diperdebatkan kesehatannya. Dengan musik instrumental seperti Mozart yang diperdengarkan setiap hari. Tapi dengan membacakan mereka Al Qur’an dan selalu mendoaakan mereka adalah hal yang paling baik. Setidaknya itu yang aku ketahui dan yakini.
A new baby is truly a miracle. From the moment you learn of the little one’s existence, you begin to dream and plan. Will she be a doctor? Will he be handsome and intelligent? Parents-to-be spend countless hours dreaming of the baby they will soon meet and discussing the most important thing of all – what should we name our baby?
This question is equally entertaining and stressful. Fortunately, there are ways to focus on the joy of the situation rather than the anxiousness it might bring. Just remember, your child will be perfect, and your name will be, too.
1: The Deeper Meaning
What is really in a name? We all know the old adage about a rose by any other name, but what does a name really mean? Many baby names are taken from languages that do actually have deeper meanings, and some might not have the exact meaning you are seeking. If you think a name sounds beautiful, but means “the weak one,” you might want to head back to the drawing board. By the same token, if you are just starting your search, consider names based on something the baby might represent – without smothering the poor child with your expectations. More than one baby has been given a name symbolizing hope or happiness.
2: The Impression
What impression does the name make on others? If you’re considering giving your son or daughter a name that is tricky to pronounce, you might reconsider. Some parents think it is adorable to match first name and last name. This is usually just confusing to everyone involved. In general, long surnames are best paired with shorter first names and vice-versa. Remember, you child is going to have to write out the name on every piece of paper they turn in for the rest of their life. Take pity on them if their last name already contains more than seven letters.
3: The Memories
Maybe a name sounds beautiful until you realize that your husband’s ex-fiance had the same name. It’s a pretty safe bet your husband would feel the same way about your ex-finaces’ names. If a name leaves a bad taste in your mouth, you probably don’t want to taste it every time you speak to your child. Find something more palatable.
4: Religion
Many times religion will have some say in the naming of a child born into that faith. Some religions feel that a child’s name should come from a deceased relative, while others feel strongly about having a name associated with a prophet or saint. Religious aspects are important to consider, but often are easily resolved with a middle name or a bit of creativity. #5: HonorShould your baby be named in honor of someone else? Perhaps the first son should be named after his father. If this is the case, be sure to give the child a nickname early on as to avoid having two people with the same name living in the same house. Middle names are another common way to honor relatives or parents.
6: Initials
Some parents sort through baby girl names and settle on a wonderful name just to discover that the baby’s initials spell out something undesirable. While this may seem trivial to adults, it can mean a great deal to a child suffering through school with cruel taunting over her initials. On the flip side, some children are given specific initials to continue a family tradition or to honor a relative.
7: Nicknames
Some names lend themselves easily to nicknames. If you think the nickname is desirable, encourage its use early on. If you prefer the child to go by the full name, you and your little one may have an uphill battle against well-meaning strangers. Another area to consider is any nickname that future classmates might dream up based on the way a name sounds. If there is anything remotely funny about a particular name, you can count on eight-year-olds to find it.
8: Gender
Sometimes the lines between gender specific names are blurring. This may or may not be a good thing for your baby. More girls seem to be receiving baby boys names. A boy never wants to be in the same room as a girl with the same name. It is up to the parents to plan ahead as much as possible. Also, even if you know the gender, bring a few extra names to the hospital just in case. Ultrasound “uh-ohs” have definitely happened.
9: Spelling
To break the mold, you might consider a unique spelling of an otherwise traditional name. Of course, there are already many accepted ways to write many baby names, so this will probably not be a problem. Do consider your child in this decision however. If a baby name is spelled so unusually that friends and family have a hard time remembering just how to spell it or even pronounce it correctly, you might have gone too far.
10: Easy to Live With
Most importantly of all, you want to pick a name you and your little one can live with happily. Are you comfortable saying the name out loud? Does it sound right when you yell it out the back door or up the stairs? Is it too reminiscent of anything or anyone you really don’t want associated with your own blessed child? Remember, too, that baby names can become a burden to a child if he feels he must live up to extremely high standards. If a child was named for a legend in your country or culture, will she be able to handle the pressure?Like pregnancy, selecting the perfect baby name is a unique experience for every parent. Parents with more than one child can tell the tale of wading through the mired mess of baby names each time a new child was on the way. The bottom line is to have an open mind and heart.
Even with the best planning, a brand new baby can easily catch a parent off guard. Many a parent has first laid eyes on their newborn and declared the child needs a totally different name than the carefully planned one. Enjoy the planning and most especially enjoy the joys of parenthood.
Read More......







